tiba-tiba HP ku berdering, sesudah menjawab salam nada diseberang telephone terlihat panik “Ayah.. bunda mimisan nich. ” Hmm.. kumaklumi kepanikan istriku waktu itu lantaran belum pernah dia alami mimisan seperti ini.
Memanglah cuaca di bln. Agustus 2007 siang itu demikian teriknya. Saya fikir ini akibat cuaca yang terik itu. Lalu saya anjurkan dia untuk selekasnya ke dokter. Sekian hari lalu istriku sakit pilek. Seperti umumnya bila sakit ia cuma minum obat warung dan tidak sering sekali ingin kontrol ke dokter. “ oalah bunda…. ke dokter ajah kok takut, ” ledekku, ku sorong pipi kenyalnya dengan ujung jari, ia merajuk bibirnya maju 2 centi, lucu memandangnya seperti itu.
Dua minggu berselang namun pileknya belum juga hilang. Jadi tuturnya ada yang merasa menyumbat di saluran hidungnya, rasa-rasanya tidak nyaman dan sulit bernafas. “Bun… besok kita ke Tempat tinggal Sakit ya! agar bapak ijin masuk siang, ” rayuku supaya ia ingin ke Tempat tinggal sakit.
Esok harinya saya ajak ia ke RS. Bhakti Yudha Depok. Waktu itu dokter THT katakan istriku alergi pada debu dan juga bulu-bulu binatang. Namun hingga obatnya habis pileknya belum ada juga sinyal tanda kesembuhan.
Anehnya yang kerap keluar lendir cuma hidung samping kiri saja. Bahkan juga istriku mulai sulit bernafas lewat hidung, ia cuma dapat bernafas lewat mulut. Dan saat saya membawanya check untuk ke-2 kalinya dokter merekomendasikan untuk rontgen. Tetapi dari hasil rontgen tak tampak ada kelainan apa pun di hidung istriku.
***
Tanggal 3 Nov 2007 …
Saya mengajaknya periksa ke RS Proklamasi Jakarta, lantaran menurut info disini peralatanya lebih komplit. Nyatanya benar, dengan alat penyedot dokter keluarkan lendir dari dalam hidung istriku. Suka rasa-rasanya lihat ia bisa bernafas dengan lega. “Alhamdulillah….. ”
Sekian hari lalu sumbatan itu kembali nampak. “Duh.. bunda! ” Kontrol ke-2 ke RS. Proklamasi masihlah saja dokter belum dapat mengemukakan penyakit apa yang dihadapi istriku ini.
Dokter memasukkan kapas basah ke hidung istriku (nyatanya itu adalah bius lokal), sebagian waktu lalu satu gunting kecil dimasukkan dalam hidung dan.. “krek” potongan daging kecil di ambil. Terakhir baru saya tau aksi berikut yang diberi nama biopsi. Tidak ada yang di sampaikan pada kami. Dokter merekomendasikan dikerjakan CT Scan. Lalu kami menuju ke RSCM untuk CT Scan.
Esok harinya hasil CT Scan saya bawa kembali pada Dokter RS Proklamasi. Sesudah lihat hasil Scan, Dokterpun mengemukakan akhirnya dan juga hasil biopsi dari laboratorium.
“ini ibu positif, ” kata dokter sembari tunjukkan photo CT Scan. Terlihat ada satu massa di antara belakang hidung dan tenggorokan istriku. Cukup besar seukuran kepalan tangan. Saya masihlah belum tahu maksud kalimat nya dan memanglah sekalipun tidak ada fikiran yang aneh saya cobalah ajukan pertanyaan, “maksudnya apa dok? ”
“ibu positif kanker! ”
Dek.. seakan detak jantungku berhenti “KANKER…Dok? ”
Mendadak mataku jadi gelap, satu beban berat terasanya menindih tubuhku. Saya diam dan tidak dapat berkata apa-apa, lama saya terdiam.
“Kanker..? ” tanyaku,
namun kalimat itu tidak dapat terucap cuma bersarang di kepalaku. Satu penyakit yang sampai kini cuma saya kenal melalui info serta berita-berita, saat ini penyakit itupun hampiri orang paling dekatku orang yang paling saya sayangi. Penyakit yang menakutkan itu menyerang istriku.
Kutatap muka cantik istriku yang dibalut jilbab favoritnya, tenang.. teduh… tidak ada ekspresi apa-apa saya semakin bingung.
“duhh…bunda apa yang ada pada fikiranmu bunda…”
“Sekarang ayah ke RSCM ke sisi Radiologi kita mesti melakukan tindakan cepat, ”
mendadak saya tersadar. Selekasnya kuambil surat pengantar dokter dan menuju RSCM.
Sungguh tidak pernah terpikirkan sedikitpun terlebih dulu, saat ini kami ada dalam jejeran beberapa orang pasien kanker di ruangan tunggulah spesialis Radiologi ini. Aroma kekhawatiran bahkan juga keputus asaan tergambar di muka mereka. Sesungguhnya ini dapat saya rasakan, namun saya mesti sembunyikan raut ini dihadapan istriku. Saya mesti tetaplah menyuguhkan daya penyemangat kepadanya.
Di hadapan dokter Radiologi saya ajukan pertanyaan, “sebenarnya istriku terkena kanker apa dok? ”
“kanker nasofaring. ” jawab dokter singkat.
Ya Allah…. kanker apa lagi ini? Istilahnya saja aneh bagiku. Mengapa mesti istriku yang merasakannya?
“Tapi Insya Allah masihlah dapat sembuh dengan penyembuhan cahaya radiasi serta kemoterapy, ” dokter coba menangkap kebimbangan diwajahku.
“Nanti ibu mesti melakukan penyembuhan radiasi sepanjang 25 kali. ”
Terbayang beratnya derita dan kelelahan yang perlu dihadapi istriku. Belum lagi dengan gabungan penyembuhan kemoterapy yang melemahkan fisik. Keluar dari ruangan radiologi seakan semua jadi gelap, rasa-rasanya saya tidak kuat menahan semua beban ini. Selekasnya saya sms family dan rekan-rekan dekatku, saya kabarkan kondisi istriku dan kumintakan do’a dari mereka. Tidak merasa bulir-bulir bening air mata bermunculan disudut mataku.
“Ayah mengapa? nangis yach..? ” dengan polos pertanyaan itu keluar dari bibir istriku.
“iya, bapak sayaaang…. sama bunda, ” suaraku gemetar.
Ku usap lembut kepala istriku. Ku tepis perlahan-lahan tangannya yang coba menyeka air mataku, ku gengggam kuat jari-jari lemahnya. Hatiku berbisik “kenapa tidak ada rasa sedih diwajahmu bunda? apakah bunda gak tau penyakit ini demikian beresiko? Atau Allah sudah menginformasikan ini semuanya padamu? ”
“Bunda umum ajah koq.. ” Jawabanya jadi semakin membuatku tidak dapat bernafas, air mataku pada akhirnya jatuh juga.
Home » LIFESTYLE
» WOOWW !!! KISAH INI KEREN BANGET ??? WAJIB BACA SELAMAT JALAN ISTERI KU . ((( KISAH NYATA MENYENTUH )))
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 Response to "WOOWW !!! KISAH INI KEREN BANGET ??? WAJIB BACA SELAMAT JALAN ISTERI KU . ((( KISAH NYATA MENYENTUH )))"
Posting Komentar