Kupenuhi panggilanMu ya Allah, tak ada sekutu bagiMu, sesungguhnya semua pujian dan nikmat serta kekuasaan adalah milikMu, taka da sekutu bagiMu’




Pergi haji adalah yang diimpikan semuanya umat muslim. Walau haji sesungguhnya adalah satu beribadah yang disebut rukun islam, walau demikian kerapkali kita menyebutkan haji sebagai satu ‘panggilan’ dari Allah swt. Seolah-olah orang yang pergi haji adalah ‘pilihan’ yang di panggil oleh Allah swt, dan tidak kebanyakan orang dapat memperoleh panggilan itu. Apakah benar anggapan itu? 

Tentang hal semacam ini, layaklah kita mentadabburi isi kalimat talbiyah yang disebut kalimat yang harus dilafadzkan jamaah haji sepanjang menunaikan beribadah haji. Kalimat itu adalah labbaik Allahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innal hamda wanni’mata laka wal mulka laa syariikalak. Makna dari kalimat ini adalah ‘Kupenuhi panggilanMu ya Allah, tidak ada sekutu bagiMu, sebenarnya semuanya pujian dan nikmat dan kekuasaan adalah milikMu, taka da sekutu bagiMu’ 

Kalimat yang selalu diulang-ulang ini dilafadzkan oleh semuanya umat muslim dari beragam penjuru tanpa ada ketidaksamaan. Seolah-olah mereka mengungkap kebahagiaannya dalam penuhi panggilan Rabb-nya. Diluar itu, kalimat talbiyah ini juga diisi pentauhidan pada Allah dengan sebenar-benarnya kepercayaan (cermati, kalimat laa syariikalak diulang 2 x). Lalu, dalam kalimat ini juga jamaah haji mengungkap kalau semua nikmat serta kekuasaan yaitu punya Allah semata, menguatkan arti kesyukuran jamaah haji yang sudah dapat berziarah ke Baitullah. 

Nah, pertanyaannya apakah ungkapan tauhid cuma dapat disibakkan waktu melaksanakan ibadah haji? Pasti tidak. Dalam tiap-tiap beribadah juga sesungguhnya kita tengah mentauhidkan namaNya. Lantas, apakah kita dapat mengatakan kalimat talbiyah ini pada beribadah lain? Ini juga tidak. Lantaran, talbiyah adalah kalimat ‘khusus’ yang cuma disyariatkan pada proses beribadah haji. Dengan hal tersebut, makna di balik kalimat talbiyah ini seakan menerangkan kalau melakukan haji adalah niat seseorang hamba untuk penuhi panggilan berhaji dari Allah swt. Dengan berhaji, seseorang muslim seakan sudah lengkapi keseluruhnya rukun beribadah, mengungkap kesyukuran yang final dan mentauhidkan Allah dengan sebenar-benarnya. 

Lantas, masalah ungkapan kalau beribadah haji adalah panggilan terkhusus dari Allah untuk beberapa hambaNya saja, apakah ini benar? Wallahu a’lam bishawab. Lantaran sesungguhnya, semua kesibukan yang dapat kita kerjakan intinya yaitu karena kehendak Allah. Tetapi, dengan berusaha keras menunaikan haji, tidakkah kita sudah ‘memenuhi’ panggilan Allah yang begitu mulia? Lantas, kenapa tidak kita tunaikan? (Rizaldy) 

0 Response to "Kupenuhi panggilanMu ya Allah, tak ada sekutu bagiMu, sesungguhnya semua pujian dan nikmat serta kekuasaan adalah milikMu, taka da sekutu bagiMu’"

Posting Komentar